frame

Hallo, Selamat Datang!

Ingin jadi bagian dari komunitas ini? Ayo bergabung bersama +140 orang lainnya disini.

Masuk Mendaftar

Halo, Tuan!

Tampaknya anda baru di sini. Bila anda ingin ikut terlibat, klik salah satu tombol berikut!

Selamat datang di Bertravel Forum! Bertravel Forum adalah komunitas diskusi online, situs berbagi informasi teknologi, viral, ekonomi, bisnis, sains, gaming, lifestyle, kesehatan, traveling, otomotif, opini, dan inspirasi. Bagikan informasi dan artikel menarik yang kamu miliki disini. Mendaftar klik Register dan Masuk klik Sign in. Jangan lupa cek email kamu untuk konfirmasi. Jika tidak ditemukan, cek email di folder Spam.

Surat buat bu Erni Kunanti

sunting November 2017 dalam My Stories
Surat buat bu Erni Kunanti - Foto bersama murid di aula SMP N 2 Siak - Riau

Halo bu Erni. Ketika ibu membaca surat ini berarti ibu tidak lagi bersama kami (dibaca: saya dan teman-teman). Maaf bu saya terlambat mengumpulkan surat padahal yang lain sudah mengumpulkan duluan. Ketika yang lain sudah selesai eh saya baru mau mulai.

Sebenarnya sudah dari kemarin mau membuat surat, tapi rasa lelah dan kantuk saya yang sudah level 8 dari level 10 mengalahkan segalanya. Jadi surat dan soal ujian jadi korbannya deh. Waktu kemarin hari terakhir pas dikantor sebenarnya sudah dapat inspirasi untuk menulis surat tapi saya malu soalnya banyak guru dan murid yang datang ke kantor. Saya pun mengurungkan niat untuk menulis surat.

Saya ini orang yang tidak pandai menulis surat. Jadi jangan heran kalau surat saya isinya seperti ini.

Ibu masih ingat suara saya kan? Kalau masih ingat, ibu bayangkan saja kalau saya yang membacakan surat ini dengan gaya khas saya.


Kesan-kesan

Langsung saja, kesan ketika pertama kali melihat saya belum memiliki kesan apapuan. Dari wajah terlihat ibu lebih muda dibandingkan guru senior, itu artinya kita yang muda tidak merasa sendiri. Ada teman intinya mah. Aseli Jawa terlihat dari logat bahasa dan wajahnya.

Lanjut ke perkenalan ternyata benar dugaan saya bahwa ibu orang Jawa. Awalnya saya tidak menyangka kalau ibu berasal dari Lampung.

Di Lampung itu banyak orang Jawa dan kakak tingkat waktu kuliah di Bandung ada yang berasal dari Lampung dan dia orang Jawa juga.

Baca yang poin ini jangan senyum-senyum sendiri ya bu.

Ehem ehem. Ini jujur lho. Ibu itu orangnya cantik. Saya sering memperhatikan anak-anak kalau ibu didepan khususnya di aula, anak laki-laki pada teriak semua. Dari kelas 1 sampai kelas 3 sama semuanya. Saya pikir, hmm tau aja nih anak guru yang cakep yang mana.

Saya juga sering memperhatikan kalau belanja atau membeli sesuatu, bapak-bapak dan abang-abang penjual perhatikan ibu lama sekali. Nih orang tau aja kalau ada cewek cakep. Saya sendiri hanya tertawa dalam hati, berarti penilaian saya ga salah kalau ibu itu cantik. Wkwkw..

Ditambah lagi dengan senyuman "maut" yang membawa "petaka" itu loh. Bahaya.. Wajar saja jika senyuman itu banyak memakan korban. Untungnya tidak atau belum memakan korban jiwa (dibaca: mati).

Untungnya saja saya, pak Hendra, pak Tri, pak Hapis dan pak Gunawan tidak menjadi korban berikutnya :D


Ibu Itu Aneh..

Saya sendiri aneh dengan ibu disaat orang Siak banyak yang pergi merantau keluar, ibu malah datang merantau ke Siak. Dari cerita ibu baru tau ternyata ada cerita khusus sebelum sampai ke Siak. Ternyata ibu punya banyak cerita hingga pada akhirnya sampai ke Siak. Ya cerita itu sudah ibu sampaikan dalam banyak kesempatan.

Saya sendiri tidak menyarankan ibu untuk tetap di Siak, karena rasanya jika membangun masa depan di Siak kurang menjanjikan.

Malahan saya berencana untuk pergi lagi dari Siak. Tempat tujuan saya berikutnya adalah Tangerang, Banten dekat dengan Jakarta. Disana ada perusahaan tempat taman saya bekerja dan nantinya saya akan bekerja disana.

Ini juga belum pasti, masih dalam proses seleksi dulu. Makanya kemarin saya sempat bertanya ke ibu, sebelum keluar dari SMP kita harus bagaimana dulu.


Hari-hari Berganti Hari, Bulan Berganti Bulan

Waktu pun begitu cepat berlalu tanpa kita sadari. Sampai pada akhirnya perpisahan itu datang. Sedih? Iya. Kehilangan? Iya. Tapi meskipun begitu saya pura-pura santai aja. Sampai pada h-1 semuanya masih terasa biasa saja. Tapi pada perpisahan itu ketika di aula barulah kehilangan mulai terasa.

Rasanya seperti saya patah hati dulu. Ada rasa sesak didada. Nafas tidak beraturan. Cie cie sok sweet. Tapi tenang aja selera makan masih seperti biasa. Kalau mandi juga masih terasa airnya.

Tapi ini tidak saya katakan kepada siapapun. Saya sih cuma diam-diam saja. Sebelumnya saya memang memiliki banyak teman tapi perpisahan tidak seberat ini. Yang jelas ibu beda dengan teman-teman saya yang sebelumnya.

Dalam hati pun berkata, ini adalah waktu yang tepat untuk menulis surat, tapi itu tidak mungkin karena banyak orang dan guru disana. Akhirnya saya tunda keinginan saya untuk menulis surat.


Bu Erni dan Bu Ayu adalah Sahabat Cewek Saya Generasi Pertama

Hmm mungkin karena saya hanya memiliki teman-teman cowok dan sahabat cowok jadi ketika berpisah rasanya biasa saja. Sejujurnya bu Erni dan bu Ayu adalah sahabat cewek generasi pertama yang saya punya. Jadi inilah yang saya rasakan ketika berpisah dari salah satu diantaran kalian berdua.

Saya memang punya banyak teman-teman cewek, tapi saya tidak memiliki sahabat cewek. Waktu yang paling berkesan menurut saya dan mungkin teman-teman lainnya adalah ketika hujan lebat di depan Istana Siak.


Banyak Pelajaran Hidup dari Bu Erni dan Teman-Teman Sekalian

Sebelumnya saya menyangka bahwa kebaikan orang-orang itu ada batasnya. Tapi bu Erni dan bu Ayu mampu menjelaskan bahwa kebaikan itu unlimited.

Kalau dibandingkan dengan level kebaikan saya, saya ini tidak ada apa-apanya. Level kebaikan kalian berdua jauh berada diatas saya. Intinya saya kalah.

Ternyata benar Allah itu punya rencana tersendiri yang tidak pernah kita ketahui. Saya sendiri dibuat bingung kenapa saya harus balik lagi ke Siak. Padahal menyadari bahwa saya tidak menemukan apa yang saya cari (dibaca:karir) di Siak ini.

Ternyata rencana Allah itu luar biasa. Lewat emak saya, Allah pulangkan saya ke Siak dan pertemukan saya dengan bu Erni dan bu Ayu. Jauh-jauh dari Bandung, Allah datangkan saya ke Siak untuk belajar pengalaman hidup dari bu Erni dan bu Ayu.

Ternyata pelajaran yang saya dapatkan disini itu lebih penting dan lebih berharga dari karir yang selama ini saya cari. Bukan pelajaran kuliah atau pelajaran sekolah tapi pelajaran hidup.


Ada Pertemuan juga Ada Perpisahan

Pertemuan dan perpisahan adalah dua hal yang tidak bisa terpisahkah. Sama halnya dengan hidup-mati, muda-tua, kuat-lemah, dan seterusnya. Pertemuan saya dengan ibu dan bu Ayu adalah skenario terbaik dari Tuhan yang pernah saya rasakan. Sebentar tapi berkesan.

Yang paling merasakan kehilang adalah pak Hendra, termasuk saya sendiri dan pastinya bu Jamilah. Saya dan pak Hendra merasa kehilangan karena tidak ada lagi guru yang asik seperti bu Erni.

Bu Jamilah merasa kehilangan karena ibu bisa diandalkan dalam melakukan banyak hal misalnya membuat surat, bisa mengontrol murid-murid dan banyak lagi.


Mohon Maaf Barangkali Banyak Kesalahan yang Sudah Diperbuat

Saya manusia biasa barangkali ada salah perbuatan, tingkah laku dan ucapan mohon dimaafkan. Ibu sendiri tidak ada salah, kalau pun ada itu sudah saya maafkan.


Harapan Saya

Semoga disana ibu menemukan apa yang selama ini ibu cari. Semoga ibu cepat dapat jodoh dengan orang yang terbaik. Semoga karirnya lancar dan sukses.

Jangan lupa kalau sudah menjadi ibu dari anak-anak, didik anak-anak ibu menjadi soleh dan solehah. Prestasi terbesar orang tua bukan soal harta tapi keberhasilannya adalah anak yang soleh dan solehah. Anak yang soleh dan solehah bisa menolong kita baik didunia maupun di akhirat.

Sekarang ini banyak orang yang sukses karir tapi tidak sukses mendidik anaknya.

Jangan lupa doakan kami ya bu. Kalau berdoa jangan bilang-bilang ke kami ya. Doanya dalam diam aja. Kami disini juga begitu :D Doa kami para guru dan lain sebagainya selalu menyertai bu Erni.

Kalau ibu sampai ke Mekah atau Madinah duluan, doakan juga kami agar kami segera menyusul.

Siak Sri Indrapura, 15 November 2017.

**

Surat ini bisa ibu baca kembali kalau ibu mau kapan pun ibu mau. Kalau ibu ingin baca kembali silahkan dibookmark dibrowser atau ketik "surat buat bu Erni Kunanti Bertravel" di pencarian Google. Pasti ketemu.. Kalau ibu punya surat juga bisa diposting disini.

*)
Masuk atau Mendaftar untuk berkomentar.