Beginilah sosok Arcandra Tahar di Amerika sebelum pulang jadi menteri di Indonesia
frame

Hallo, Selamat Datang!

Ingin jadi bagian dari komunitas ini? Ayo bergabung bersama +120 orang lainnya disini.

Masuk Mendaftar

Halo, Tuan!

Tampaknya anda baru di sini. Bila anda ingin ikut terlibat, klik salah satu tombol berikut!

Selamat datang di Bertravel Forum! Bertravel Forum adalah komunitas diskusi online, berbagi informasi, berita, review, artikel menarik dan unik. Bagikan informasi dan artikel menarik yang kamu miliki disini. Mendaftar klik Register dan Masuk klik Sign in. Jangan lupa cek email kamu untuk konfirmasi. Jika tidak ditemukan, cek email di folder Spam.

Beginilah sosok Arcandra Tahar di Amerika sebelum pulang jadi menteri di Indonesia

Beginilah sosok Arcandra Tahar di Amerika sebelum pulang jadi menteri di Indonesia

Anda kenal tokoh yang satu ini? Arcandra Tahar namanya. Ir. Arcandra Tahar, M.Sc, Ph.D adalah putra Minang yang kemudian kuliah dan bekerja di Texas, Amerika. Sebelumnya beliau adalah Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) walaupun hanya 20 hari, yang menjadikannya menteri dengan masa kerja terpendek.

Sekarang, beliau adalah Wakil Menteri ESDM. Kita abaikan dulu latar belakang beliau yang sempat rada kontroversi. Selama di Texas, beliau nyambi sebagai guru ngaji (tahsin). Ya, guru ngaji. Boleh dibilang, beliau ini penggiat di Islamic Family Academy di Houston, Texas.

Salah satu peserta di sana, Yuyud Tomtom, mengaku, “Tahun lalu, saya bertemu dengan dia di Islamic Family Academy Houston Spring Camp. Kemudian, saya tahu jika dia adalah seorang guru ngaji. Dia mengajari anggota keluarga saya bagaimana membaca Al-Quran secara benar. Itu adalah bagian dari kebaikannya. Semoga Allah memberi pahala yang berlimpah."

Karena itulah, saat bertemu beliau saya bertanya soal agama. Tepatnya, tentang kesalahan-kesalahan kita terhadap orang lain dan bagaimana cara meminta maafnya andai kita tidak bisa bertemu juga menghubungi orang itu secara langsung.

Pejabat yang satu ini memang sederhana dan rendah hati. Tapi ilmu agamanya insya Allah bisa diandalkan. Pertanyaan saya ini dijawab panjang-lebar oleh beliau. Lugas. Menurut beliau, kita harus berusaha mencari orang tersebut dengan sungguh-sungguh. Soal sungguh-sungguh ini hanya Allah dan hati kita yang tahu.

Bila tidak bertemu juga, carilah kerabatnya. Begitulah. Minta maaf sama manusia, minta ampun sama Allah. Pantaslah di kalangan tertentu beliau dipanggil 'buya'. Semoga beliau selalu sehat dan dilindungi Allah. Aamiin.

Lantas, bagaimana rasanya tinggal dan berkeluarga di negeri yang secara iman kita adalah minoritas? Beliau mengajarkan analogi tentang sungai. Apakah kita 'membangun pagar bagi anak' atau 'mengajarkan anak berenang'. Beliau menyarankan alternatif yang terakhir, mengajarkan anak berenang.

Masih banyak lagi ilmu-ilmu bermanfaat dari beliau. Kapan-kapan kita sambung lagi. Sekian dari saya, Ippho Santosa.

© Ippho Santosa

*) Jangan lupa mampir lagi kesini lagi untuk mencari dan berbagi tentang motivasi dan inspirasi lainnya dari Ippho Santosa. Jangan lupa bergabung di Bertravel Forum.

Image source: Konfrontasi

Masuk atau Mendaftar untuk berkomentar.