frame

Hallo guys, Selamat Datang di Komunitas Bertravel Forum!

Ingin jadi bagian dari Komunitas Bertravel Forum? Silahkan bergabung bersama +80 orang lainnya disini.

Masuk Mendaftar

Howdy, Stranger!

Halo guys.. Selamat datang di Komunitas Bertravel Forum! Ingin berbagi informasi di Komunitas Bertravel Forum, silahkan mendaftar!

Selamat datang di Bertravel Forum! Bagikan informasi dan artikel menarik yang kamu miliki disini. Mendaftar klik Register dan Masuk klik Sign in. Jangan lupa cek email kamu untuk konfirmasi. Jika tidak ditemukan, cek email di folder Spam.

Kegalauan dan kegamangan sarjana muda dalam memilih pekerjaan setelah sampai di desa

Kata orang enak jadi sarjana bisa sekolah tinggi ke kota, punya banyak uang, mudah cari pekerjaan, punya banyak kenalan dan banyak lagi persepsi orang desa tentang orang yang bergelar sarjana. Persepsi tersebut ada benarnya tapi banyak juga yang salah, karena itu tergantung kepada individunya.

Ada banyak orang tidak sarjana tapi dia tetap mudah mencari pekerjaan, punya banyak uang, punya banyak kenalan dan tetap bisa jalan-jalan ke kota. Namun ada banyak juga sarjana yang akhirnya menganggur, padahal sudah menempuh pendidikan tinggi.

Saya adalah seorang sarjana yang galau dan gamang dalam memilih pekerjaan. Dulu ketika belum lulus saya sudah merencanakan masa depan dikota. Ingin punya pekerjaan, punya usaha atau perusahaan, punya rumah atau tempat tinggal dikota, dan kalau bisa jodoh dibawa kekota.

Bandung adalah kota yang pernah menjadi tempat untuk saya dimasa depan. Bandung adalah tempat saya belajar, kuliah, ada lebih dari 1001 pengalaman, dan cerita yang tidak bisa dilupakan. Sudah terlalu banyak cerita sehingga tak akan selesai jika dituliskan dalam kata-kata.

Keinginan untuk membangun masa depan di Bandung sirna karena keluarga didesa menyuruh saya kembali. Mau tidak mau, suka tidak suka saya harus ikut keinginan mereka. Saya tak mau menjadi anak durhaka karena tidak patuh kepada orang tua.

Desa saya ada di Siak tepatnya di provinsi Riau di Pulau Sumatra. Didesa kegalauan saya dimulai, karena didesa tak sama seperti di kota Bandung. Disana lapangan pekerjaan mudah dicari apalagi untuk seorang sarja seperti saya.

Didesa lapangan pekerjaan susah dicari, kalaupun ada pekerjaan gaji yang diberikan tak sesuai dengan pendidikan. Malah gaji untuk seorang sarjana sama dengan orang lulusan SMA.

Jadi PNS lowongan CPNS belum dibuka. Ingin bekerja diperusahaan, perusahaan di Riau masih sedikit, ingin pergi kekota lain orang tua tidak mengizinkan, ada lowongan kerja di bank takut dengan dosa riba, bikin usaha keadaan tidak memungkinkan karena daya beli masyarakat rendah, ingin kerja honor dipemerintahan kabupaten siak gajinya tidak lancar.

Ada teman yang juga seorang sarjana, tapi dia lebih dahulu diwisuda. Karena bingung terlalu lama menganggur akhirnya nekat kerja jadi pengawai honor di kantor dinas pemerintahan daerah kabupaten yang gajinya tidak lancar, gaji tiga bulan sekali, dan jumlah gaji kecil.

Saya sendiri masih galau dan bingung dengan pekerjaan dan nasib dimasa depan jika keadaan terus seperti ini. Selama didesa saya mulai mencoba bisnis atau usaha ini itu. Sementara ini lebih banyak gagal daripada berhasil.

Iya beginilah nasib seorang sarjana yang tinggal didesa, memulai semua dari nol, dengan fasilitas desa yang seadanya. Berat memang, namun harus dijalani demi masa depan yang lebih baik.

Untuk teman-teman dikota, tetap semangat. Kalian jauh lebih beruntung dibanding kami didesa dalam hal membangun karier. Jangan lupa Bismillah dan niat ibadah agar pekerjaan jadi berkah dan jadi ibadah.

Minggu, 2 April 2017
Tagged:
Sign In or Register to comment.