frame

Hallo, Selamat Datang!

Ingin jadi bagian dari Komunitas Bertravel Forum? Silahkan bergabung bersama +60 orang lainnya di Komunitas Bertravel Forum.

Masuk Mendaftar

Howdy, Stranger!

It looks like you're new here. If you want to get involved, click one of these buttons!

Selamat datang di Bertravel Forum! Bagikan informasi dan artikel menarik yang kamu miliki disini. Mendaftar klik Register dan Masuk klik Sign in. Jangan lupa cek email kamu untuk konfirmasi. Jika tidak ditemukan, cek email di folder Spam.

True Story: Pasca 6 Bulan Wisuda Sarjana, Setiap Orang Berbeda, Ambil Hikmahnya Aja ya

True Story: Pasca 6 Bulan Wisuda Sarjana, Setiap Orang Berbeda, Ambil Hikmahnya Aja ya
Ilustrasi kegembiraan setelah diwisuda | Kompas.com

Hari ini tanggal 5 Mei 2017 hari Senin. Terhitung sudah 6 bulan aku melewati masa wisudaku. Aku wisuda dari salah satu universitas ternama di Indonesia yang terletak di kota Bandung, Jawa Barat. Aku wisuda pada 14 desember 2016. Ketika itu ada perasaan senang, karena merasa sudah berhasil menyelesaikan amanah orang tua. Perasaan senang Karena perjuang kuliah selama 4 tahun lebih akhirnya membuahkan hasil yaitu gelar sarjana. Namun ada perasaan takut yang muncul dalam pikiran setelah diwisuda yaitu ketakutan dan ketidaksiapan saya untuk masuk kedalam dunia nyata.

Dugaanku benar, ternyata dunia nyata lebih keras dibandingkan dengan dunia mahasiswa. Karena erasnya dunia nyata akhirnya banyak sarjana merobohkan tembok-tembok idealism ketika masih mahasiswa dulu. Perkerjaan yang haram pun dibabat demi menghilangkan sebutan pengangguran, contohnya saja riba. Riba dalam Islam dilarang keras, tapi pada kenyataannya banyak teman-teman yang menyerbu untuk melamar pekerjaan ke bank dan asuransi, padahal mereka sendiri mengetahui bahwa riba itu haram.

Berbeda dengan saya yang mencoba teguh dengan idealisme, saya tidak mau bekerja di bank. Tawaran pekerjaan dari bank syariah pun saya tolak, apalagi tawaran pekerjaan dari bank konvensional. Ini bukan sombong kawan, tapi karena saya takut dengan riba. Sudah terlalu banyak dosa yang saya buat, saya takut bertambah besar jika saya bekerja di bank. Langkah yang saya ambil sekarang ini adalah berwirausaha. Wirausaha saya pilih karena bisa diusahakan mana yang halal dan haramnya. Pastinya yang haram kita jauhi dalam berwirausaha seperti riba.

Sebenarnya sejak masih mahasiswa dulu saya pernah mencoba berbagai wirausaha, namun semuanya hanya coba-coba karena takut mengganggu waktu kuliah. Meskipun hanya coba-coba setidaknya saya memiliki sedikit ilmu tentang wirausaha. Sayangnya ilmu wirausaha saya hanya separuh-separuh.

Singkat cerita setelah wisuda saya pulang kampung ke Siak Sri Indrapura, Riau. Disini amat berbeda jauh dengan kota Bandung, pastinya saya merasa kikuk, canggung, dan bingung dengan apa yang harus saya perbuat. Terbiasa hidup disuasana kota ketika masuk ke kampung muncul rasa aneh yang sulit untuk dijelaskan panjang lebar.

Gambaran singkatnya mengenai kota saya yaitu dulunya merupakan kota/kabupaten yang masuk dalam 5 besar daerah dengan pendapatan daerah terbesar se Indonesia. Kotaku ini adalah kota yang sering mendapatkan piala adipura karena kotanya bersih, lha gimana mau kotor penduduknya masih sedikit jadi sampah kotanya mudah diatasi, tidak seperti Jakarta yang agak semrawut dan banyak sampah. Tidak banyak pabrik atau perusahaan jadi susah mencari lapangan kerja, kalau mau cari lapangan kerja ya kerja di kantor pemerintahan daerah, kerja diluar kota atau jadi petani. Kalau bikin bisnis agak susah karena pasarnya masih kecil dan biaya distribusi mahal. Dan banyak lagi pokoknya..

Tapi ya gitu, untuk fresh graduate seperti saya pastinya amat membingungkan dengan kondisi daerah yang seperti ini. sebenarnya saya masih ingin dikota, membangun karir, jika perlu saya juga memiliki keinginan untuk S2 diluar negeri pakai beasiswa. Namun apa daya, orang tua menyuruh saya pulang kampung yang keadaaanya begini. Tentunya ini jauh dari harapan saya dulu.

Bingung ingin membuat apa, akhirnya muncul ide gila yaitu ingin membuat produk madu olahan dalam kemasan dengan nama brand sendiri. Namun baru berjalan beberapa bulan atau kurang dari 3 bulan usaha madu langsung KO karena kesulitan dalam hal distribusi barang keluar kota.

Sebenarnya kalau peminat madu sendiri cukup tinggi terutama dikota-kota besar khususnya pulau Jawa. Karena kewalahan dalam hal biaya distribusi produk permintaan pasar menurun. Biaya distribusi yang mahal membuat banyak calon pembeli harus berpikir berkali-kali sebelum membeli produk madu yang kami buat. Tentunya ini membuat perputaran uang di bisnis madu yang kami garap sangat lambat.

Saya tidak sabar ingin segera menunggu hasil atau uang. Namun apa daya keadaan memang tidak bisa dipaksakan. Saya dan teman partner bisnis madu akhirnya berpikir kembali bagaimana untuk mendapatkan uang cepat dengan berwirausaha. Terpikirlah untuk membangun usaha baru yang lain menggunakan uang hasil penjualan madu. Ketok palu, akhirnya kita mengambil bisnis budidaya ikan lele. Sekarang sudah berjalan bisnis budidaya ikan lele lebih dari 1 bulan tapi belum sampai 2 bulan.

Entahlah, tidak tau apa yang akan terjadi pada bisnis budidaya ikan lele yang sedang kami jalankan kedepannya. Yang pasti kami pasti akan selalu berusaha agar mendapatkan hasil yang terbaik. Jika dihitung secara matematis belum ada uang benar-benar dari hasil gaji pekerjaan saya. Intinya sampai sekarang belum ada uang masuk hasil dari kerja keras saya pribadi. Untuk modal usaha pun saya harus berhutang dengan nenek sebanyak satu juta dan ini belum bisa saya bayar lunas. Ini saja baru saya bayar 50 ribu.

Semoga nantinya usaha budidaya ikan lele saya tetap berjalan dengan baik. Distribusi ikan lele lancar dan tidak pakai ribet. Selalu ada uang masuk tiap bulannya, biar bisa membayar hutang-hutang. Bisa bantu banyak orang, bisa berguna bagi orang banyak. Bisa membangkitkan ekonomi kampung dan daerah sekitar. Mohon doanya..

Kemarin kita juga sedang menggarap proyek budidaya ikan punya teman dikampung sebelah. Katanya mereka tertarik untuk bisnis budidaya ikan seperti kami. Kabarnya mereka akan coba budidaya ikan patin dan ikan lele. Dalam proyek kecil-kecilan ini ita cuma bantu-bantu. Sebenarnya kami senang karena bisa menginspirasi orang lain. Semoga nantinya usaha kami membuahkan hasil yang memuaskan.

Tapi yang jelas, labal sarjana pengangguran sudah melekat pada diri saya semenjak lulus kuliah. Maklumlah sampai sekarang sudah 6 bulan saya masih ngurusin lele dan belum kerja dikantor. Tidak seperti teman-teman saya yang lainnya yang bekerja di kantor atau diluar kota.

Meskipun apa yang saya lakukan terlihat hina dimata masyarakat, tidak apa-apa yang penting halal dan jauh dari riba.

**
Tagged:
Sign In or Register to comment.