Memanfaatkan Indikasi Geografis dan Produk Khas Lokal dalam Bisnis dan Berwirausaha – Dalam kegiatan bisnis seperti sekarang ini sudah sangat banyak sekali bisnis yang mengusung konsep teknologi dalam bidang usahanya. Tetapi dalam bisnis yang skala menengah yang mengusung konsep dengan menggunakan indikasi geografis masih sedikit sekali di Indonesia.
Jasa Pembuatan Website Profesional
β Rating 4.9/5 - 50+ Klien Puas- Desain Modern & Responsive (Mobile-Friendly)
- Gratis Domain .com & Free Hosting
- SEO Optimized - Mudah Ranking Google
- Gratis SSL Certificate (HTTPS)
- Revisi Website
- Garansi 30 Hari Uang Kembali
Sehingga akan memberikan peluang besar untuk mengembangkan bisnis usaha menjadi lebih besar. Baik untuk skala lokal maupun internasional. Bisnis skala lokal nantinya akan berpengaruh juga terhadap bisnis pariwisata. Karena orang-orang cenderung tertarik membeli produk dari daerah asalnya.
Indikasi geografis ini bisa dibilang suatu produk atau barang yang bisa di dapatkan hanya didaerah tertentu saja, dan hanya sesuai dan bisa di kembangkan didaerah tertentu saja. Produk indikasi geografis bisa dibilang produk khas suatu daerah, misalnya jeruk bali, kambing Garut, cokodot Garut, kopi arabika aceh, durian montong, salak pondoh dan banyak produk lain yang menjadi ikon suatu daerah yang ada di seluruh Indonesia.
Khusus untuk Indonesia masih banyak indikasi geografis atau produk khas yang belum dipatenkan. Oleh sebab itu usaha bisnis yang menggunakan indikasi geografis sangat berpotensi sekali untuk berkembang. Sedangkan indikasi geografis di Indonesia masih banyak sekali yang belum di kembangkan. Yang saya ketahui hanya beberapa produk indikasi geografis yang sudah dipatenkan.
Tercatat di situs www.patenindonesia.com pada tahun 2010 hanya 14 produk yang sudah dipatenkan. Kemungkinan masih banyak produk yang belum dipatenkan. Sehingga ada baiknya untuk mengembangkan bisnis usaha berdasarkan produk khas daerahnya masing-masing, lalu kemudian dipatenkan. Produk indikator geografis tidak hanya berbentuk makanan (seperti kopi, salak, jeruk, dan lain-lain) tapi bentuk lain juga bisa berbentuk benda seperti mebel, ukiran, patung, dan lain-lainnya.
Potensi seperti merupakan kekayaan yang harus dikembangkan dan dilestarikan. Ini didukung dengan keaneka ragaman yang dimiliki Indonesia. Mulai dari Sabang sampai dengan Merauke, jika dihitung indikasi geografi Indonesia bisa mencapai ribuan. Walaupun tidak bisa dikembangkan seluruhnya, pilih salah satu saja yang ingin dikembangkan.
Kita bisa bercermin dari negara lain di dunia misalnya Amerika Serikat, China, Jepang, dan negara-negara Eropa lainnya. Mereka sudah menerapkan bisnis dengan indikator geografisnya. Produk lokal asli mereka sudah mereka patenkan, sehingga tidak sembarang orang bisa membeli atau mengakuinya. Selain untuk bisnis-bisnis dengan indikator geografis juga bisa melindungi kekayaan lokal yang ada di Indonesia.
Pengembangan bisnis usaha dengan mengembangkan indikasi geografis juga memudahkan kita mengatasi masalah modal. Pemerintah pusat atau daerah maupun investor lokal sangat tertarik untuk ikut membantu baik itu berupa modal, maupun untuk kegiatan pemasaran.
Sehingga tidak perlu takut untuk menjalankan bisnis, karena berbagai pihak akan ikut membantu untuk memajukan bisnis. Jadi tidak ada yang namanya permasalah modal.
*)
UMKM Go Digital Bersama Bertravel Media
Tingkatkan omzet bisnis Anda dengan kehadiran digital yang profesional, terjangkau, dan hasil terukur.
- Website Mobile-Friendly
- SEO Optimized
- Gratis Konsultasi
- Garansi Revisi
Saya adalah SEO Consultant dan Digital Marketing Strategist di Bertravel Media. Saya membantu bisnis, UMKM, dan perusahaan meningkatkan visibilitas online, mendatangkan pelanggan potensial, serta mengembangkan aset digital yang menghasilkan pertumbuhan jangka panjang. Keahlian saya diantaranya meliputi SEO, Content Marketing, Website Development, dan Digital Business Growth. Melalui artikel dan panduan yang diterbitkan di Bertravel Media, saya berbagi wawasan praktis berdasarkan pengalaman nyata dalam membantu bisnis bersaing di era digital. Selain di Bertavel Media, saya juga bertugas di Babada Corp, Bertravel Guide dan Babada Foundation. Lets Connect. π




